Ada Uang, Ada Permainan

Para pemain Timnas Ghana (REUTERS/Wolfgang Rattay) | Vivanews | Dibaca 12

Angpao888.com : Melihat kemapanan yang ditampilkan para pesepakbola di layar kaca ataupun berbagai media lainnya, rasanya tak salah jika anak-anak yang sekarang masih duduk di bangku SD atau SMP menyebut profesi pemain bola sebagai cita-cita mereka. Coba pergilah ke sekolah dasar terdekat, dan tanyakanlah pertanyaan soal cita-cita ini pada para siswa yang berada di sana.

Saya yakin, setidaknya seperempat dari kerumunan itu bermimpi menjadi The Next Lionel Messi. Apalagi jika mereka mengikuti pemberitaan tentang gaya hidup pemain luar negeri. Bergelimang harta, dikelilingi wanita, dan dipuja-puja umat sedunia.

Jujur saja, kita yang sudah dewasa pun menjadi iri dan terheran-heran bila membaca nominal angka dalam bentuk gaji yang diterima oleh para pemain luar tersebut per tahun, per bulan, bahkan per minggu. Meraup uang seakan-akan menjadi hal yang gampang bagi pria-pria berbadan atletis ini. Fantastis, luar biasa, atau ungkapan keheranan lainnya pasti Anda ucapkan melihat banderol harga yang menempel di  tubuh para bintang lapangan hijau.

Harga tinggi tentu diharapkan sebanding dengan kualitas yang dimiliki, dan performa yang ditunjukkan. Klub yang merasa puas akan penampilan pemainnya juga tak akan ragu-ragu untuk mengucurkan bonus tambahan yang jumlahnya juga tak bisa disepelekan.

Kondisi itu tentu mereka alami jika bermain untuk sebuah klub yang mapan. Lalu bagaimana ketika mereka memberikan jasa untuk negara, akankah mereka mendapat imbalan yang sama? Pertanyaan ini terus berputar-putar di benak saya. Apalagi setelah setelah membaca sikap yang ditunjukkan para pemain Kamerun menjelang keberangkatan ke putaran final Piala Dunia tahun ini.

Mereka melakukan aksi mogok tak mau meninggalkan hotel tempat pemusatan latihan dan menolak masuk ke dalam pesawat untuk menuju ke Brazil. Alasan ngambek massal ini ternyata adalah uang. Para pemain belum menerima pembayaran yang semestinya mereka dapatkan saat bisa meloloskan The Indomitable Lions ke fase 32 besar. Memang sekedar menuntut hak? Ataukah mereka meminta timbal balik lebih saat harus berjuang membela negara?

Tentu tidak semua anggota timnas Kamerun memiliki harga selangit, seperti rata-rata pendapatan anggota timnas Jerman. Samuel Eto’o dengan tujuh juta pounds per musimnya di Chelsea  dan Alex Song yang memperoleh 700,000 pounds (lebih dari 1 miliar rupiah) per pekan dari Barcelona mungkin termasuk pemain dengan bayaran tertinggi di antara rekan-rekannya sesama penghni timnas. Jadi keengganan Eto’o dan kolega menuju negeri samba, mungkin sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap perlakuan manajemen timnas serta federasi sepak bola, atau bisa juga hanya menunjukkan bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang bekerja profesional dalam mencari uang. Ada uang ada barang.

Soal kucuran dana segar bagi timnas yang berlaga di event empat tahunan ini kembali menyeruak di benak saya kala para pemain timnas Ghana menekan federasi mereka untuk membagikan terlebih dahulu uang senilai 8 juta dolar AS, sesaat sebelum berhadapan dengan Portugal. Uang itu sebenarnya adalah hak yang memang mereka terima sebagai hadiah dari FIFA karena telah lolos kualifikasi dan menembus putaran final, namun hadiah itu baru bisa mereka terima setelah usainya gelaran ini.

Saya kurang tahu pasti apa yang menjadi alasan mereka tak mau bersabar dan malah memaksa pemerintah, bahkan presiden Ghana, John Dramani Mahama, segera menyediakan dana talangan dan mengirimkannya pada mereka ke Brasil. Apakah mereka sering terluka dengan kebijakan finansial Federasi Sepakbola Ghana?

Gelandang Christian Atsu menjamin bahwa rekan-rekannya tak akan memboikot penampilan mereka di laga pamungkas Grup G. Ia mengaku bahwa bagaimanapun juga Ia mencintai negara Ghana tercinta. Tapi tetap saja mereka mati-matian memaksa agar bonus itu segera turun. Maka sang presiden pun memutuskan mencarter pesawat yang menerbangkan uang cash sebesar 3 juta dolar AS dari Ghana ke Brasil. Sesampainya di bandara ibu kota, berkarung-karung uang itu kemudian melewati perjalanan darat menuju Brasilia, kota tempat timnas Ghana menetap dan melakoni laga kontra Seleccao das Quinas.

Michael Essien dan kawan-kawan  menyambut datangnya lembaran-lembaran berharga ini dengan suka cita, bahkan banyak kamera yang mengabadikan foto mereka sedang mencium uang yang didapatkan. Setiap pemain kabarnya mendapatkan 75 ribu hingga 100 ribu dolar AS. Saat ditanya oleh wartawan setempat, kenapa uang sebegitu besar diberikan secara langsung tidak ditransfer, punggawa Black Stars pun menjelaskan bahwa hal itu sudah menjadi kebiasaan.

Jujur, saya agak iri melihat tuntutan pemain Ghana yang didengar oleh federasi dan  presidennya. Saya membayangkan teman-teman pesepakbola dalam negeri yang tak tahu harus mengadu kepada siapa, saat gaji berbulan-bulan tak dibayarkan oleh pemilik klub tempat mereka merumput. Memang level timas berbeda dengan level klub.

Tapi intinya toh sama, ada perhatian terhadap tuntutan pemain dan pemenuhan hak mereka yang diberikan oleh pemerintah dan federasi sepakbola. Lalu, jika para pemain dari klub-klub yang berpartisipasi di divisi utama ataupun liga super Indonesia melakukan aksi mogok tak mau bertanding dan menolak pergi menuju partai away jika gajinya tak kunjung dibayarkan, akankah mereka mendapatkan atensi yang sama? Atau malah dibungkam dan disingkirkan perlahan-lahan

Penulis: Putri Violla, Presenter TV One
© VIVAbola 

Comment Here