Benang Jahitan Lepas di Perut Pasien, Ini Pasal yang Jerat dr Bambang

Gedung Mahkamah Agung (ari saputra/detikcom)| Dibaca 23

JAKARTA – Angpao888.com : dr Bambang Suprapto SpB MSurg dihukum 1,5 tahun penjara karena benang jahitan di perut pasien lepas sehingga usus pasien bocor dan meninggal dunia. Vonis ini jauh di atas tuntutan jaksa yang hanya menuntut Rp 100 juta, tanpa pidana penjara.

“Bahwa dengan demikian perbuatan Terdakwa memenuhi unsur-unsur dalam dakwaan Kedua Pasal 76 dan 79 huruf c UU No 29/2004 tentang Praktik Kedokteran,” kata majelis kasasi seperti tertuang dalam salinan kasasi yang dilansir website MA, Kamis (10/7/2014).

Vonis itu dijatuhkan tiga hakim agung yaitu Dr Artidjo Alkostar sebagai ketua majelis dengan anggota Prof Dr Surya Jaya dan Dr Andi Samsan Nganro. dr Bambang sempat dipenjara karena tidak memiliki surat izin praktik di RS DKT Madiun, Jawa Timur. Akibat praktiknya itu, pasien Johanes Tri Handoko meninggal dunia karena benang jahitan tertinggal di perut pasien saat operasi pengangkatan tumor. Johanes dioperasi pada pada 21 Oktober 2007 di RS DKT Madiun dan meninggal dunia pada 20 Juli 2008.

dr Bambang dihukum sesuai dengan UU Praktik Kedokteran pasal 76 yaitu:

Setiap dokter yang dengan sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat izin praktik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak Rp 100 juta.

Adapun pasal 79 huruf c UU Praktik Kedokteran berbunyi:

Dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 50 juta setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, atau huruf e.

Dalam pasal 51 disebutkan:

Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban:
a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien

b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan

c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia

d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya dan

e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi.

Oleh Andi Saputra | Detik.com 

Comment Here