PDI-P: Pencopotan Jendral Budiman Menunjukkan SBY Konsisten

Kepala Staf TNI AD Jenderal Budiman | Kompas/dani prabowo | Dibaca 255

JAKARTA – Angpao888.com : Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Andreas Hugo Pareira menyatakan, pencopotan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Budiman sangat mengejutkan.

Namun, Andreas berpendapat, pencopotan itu patut diapresiasi karena menunjukkan konsistensi pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal adanya upaya menyeret jenderal aktif ke ranah politik.

“Pencopotan Jenderal Budiman sebagai Kasad mengejutkan sekaligus mungkin membuktikan bahwa SBY ingin memenuhi janjinya menjaga netralitas TNI sekaligus untuk mengawal pilpres berlangsung aman dan damai,” ujar Andreas dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (22/7/2014).

Dia memaparkan, pencopotan itu cukup mengejutkan karena Budiman baru akan memasuki masa pensiun pada September 2014. Selain itu, pengumuman pencopotan jabatan dilakukan di tengah situasi menjelang akhir pilpres.

Situasi ini, lanjut Andreas, yang membuat publik bertanya bahwa pencopotan ini bisa dianggap sebagai penghukuman atas kesalahan yang dibuat Budiman.

“Jangan-jangan ini yang dimaksudkan oleh Presiden SBY ketika berbicara di hadapan 200 perwira di Kemenhan bahwa ada pihak yang coba menarik-narik dukungan jenderal aktif dan juga meremehkan Presiden SBY sebagai ‘kapal karam’. Kalau ini benar tentu apresiasi pada SBY karena di akhir masa jabatannya berani mengambil sikap tegas, termasuk kepada perwira tinggi demi menjaga netralitas TNI dan terutama demi berlangsungnya pilpres yang demokratis, aman, dan damai serta bebas dari intervensi,” papar Andreas.

Seperti diketahui, Panglima TNI Jenderal Moeldoko tiba-tiba dipanggil menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Senin (21/7/2014) sore. Ketika itu, Presiden meminta Moeldoko segera memberikan nama pengganti Kasad Jenderal Budiman yang akan pensiun September 2014.

Pencopotan ini pun mengundang spekulasi soal pernyataan SBY di hadapan perwira tinggi TNI soal adanya upaya menyeret jenderal aktif ke dunia politik pada Senin (2/6/2014) lalu. Presiden berkali-kali menggelengkan kepalanya.

Informasi tersebut, ungkap Presiden, bukanlah fitnah belaka lantaran dirinya sudah meminta agar informasi itu benar-benar dicek kebenarannya.

Dari informasi itu, Presiden juga menyindir adanya jenderal aktif yang tidak lagi loyal kepada Presiden sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata.

“Bahkan, ditambahkan, tidak perlu mendengar Presiden kalian. Kan itu Presiden ‘kapal karam’, lebih baik cari presiden baru yang bersinar. Dalam negeri yang kita cintai, kata-kata ajakan seperti itu hanyalah sebuah godaan,” ucap Presiden. (Kompas)

Pages: 1 2 3

Comment Here