Setelah Semua Aib Terbongkar, Masih Adakah Tempat Bagi Ustadz Guntur Bumi di Hati Kita?

foto : Ustadz Guntur Bumi. (Seno/BION)

JAKARTA – Angpao888.com : BANGSA kita sangat religius. Bukan saja negeri ini adalah bangsa dengan penduduk Muslim terbesar, tapi mungkin juga dengan ustadz, ustazah, atau ulama paling banyak.

Sebab, rasanya kian banyak saja ustadz yang bermunculan di TV, entah sebagai penceramah, pemain sinetron, hingga membuka praktek pengobatan alternatif yang juga punya acara TV sendiri soal pengobatannya itu. Karena sudah menjadi seleb, maka ustadz pun muncul di infotainment. Apalagi bila kemudian sang ustadz menikahi selebriti. Lengkaplah sudah.

KH Zainuddin MZ telah tiada. Begitu juga Ustadz Jeffry Al Buchori. Namun, negeri ini tak kekurangan ustadz untuk mengisi kekosongan itu. Nah, Ustadz Guntur Bumi, biasa kita singkat namanya jadi UGB, lahir ke jagat budaya pop kita di tengah batas antara seleb dan ustadz kian sumir.

UGB berwajah ganteng. UGB pintar menyitir ayat, atau menasehati selayaknya ustadz. Namun, ia juga punya spesialisasi lain: bisa merukyah, mengobati orang dengan cara islami.

Omong-omong spesialisasi ini penting agar seorang ustadz jadi tenar. Pasca Ustadz Jeffry yang dikenal sebagai “Ustadz Gaul”–dengan demikian membedakannya dari KH Zainuddin Mz yang “ustadz tua”–seorang ustadz dituntut punya spesialisasi. Ustadz Arifin Ilham misalnya punya spesialisasi zikir, Ustadz Yusuf Mansyur punya spesialisasi fokus bersedekah, KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym spesialisasinya manajemen qalbu (hati), hingga Ustadz Solmed yang modalnya sedikit ganteng saja dan Ustadz Felix Siauw yang memfokuskan remaja jauhi pacaran.

Nah, spesialisasi UGB ya itu tadi, bisa mengobati dengan cara alternatif dan sedikit berbau mistis. UGB awalnya dikenal publik sebagai ustadz pengisi acara Pemburu Hantu di Lativi dahulu sebelum berganti jadi TV berita, TV One.

Menikahi selebriti, Puput Melati persisnya, UGB naik kelas kian tenar. Pun Puput yang “gelar”-nya sebatas mantan penyanyi cilik. Ada simbiosis mutualisme dalam hubungan ini. Dua-duanya jadi santapan pemberitaan dan dengan demikian jadi makin sering muncul, entah di infotainment, talk show, maupun media cetak dan online.

Ini bagus buat UGB. Bisa jadi iklan gratis praktek pengobatan alternatif miliknya. Logikanya sederhana saja: makin sering muncul di TV, makin banyak orang yang kenal; makin banyak yang kenal, makin banyak yang datang berobat.

Untuk beberapa lama, UGB menikmati kemakmuran. Hingga petir datang di siang bolong.

Petir itu sebetulnya tak datang selayaknya menggelegar tiba-tiba bikin kaget. Jika Anda rajin mengolah mesin pencari sambil mengetik nama UGB dan praktek pengobatannya, Anda akan bertemu banyak kesaksian orang-orang yang alih-alih sembuh setelah berobat ke UGB, malah hartanya seperti habis diperas dengan biaya pengobatan yang mahal.

Namun, masyarakat kita kebanyakan belum melek internet. Yang berobat ke UGB tetap banyak. Kalangan yang tak akrab internet rupanya masih menaruh kepercayaan pada UGB. Begitu banyak cerita miring di dunia maya, di dunia nyata UGB tetap laris.

Ya, bukan internet yang bikin UGB jatuh, melainkan media yang juga turut membesarkannya: televisi. Saya tak terlalu ingat siapa korban UGB yang pertama muncul di TV, merasa ditipu dan membongkar pengobatan UGB yang disebutnya akal-akalan.

Berita begini tentu menjadi santapan menarik bagi TV. Cerita lain tentu saja sensasi nikah lalu rujuk yang dipraktekkan UGB dan Puput. Seingat saya ini bukan kali pertama rumah tangga mereka digoncang badai. Dua tahun sebelumnya, UGB dan Puput juga pernah nyaris bercerai.

Urusan kawin-cerai sebetulnya hanya kisah sensasional yang akan reda diganti berita sensasional lain. Namun tuduhan praktek pengobatan penuh tipu muslihat yang kemudian diekspos oleh media (terutama TV) adalah iklan yang buruk bagi UGB. Saya tak yakin masih ada yang ingin berobat ke UGB pasca melihat pemberitaan kesaksian korban-korban UGB di infotainment.

Yang paling anyar, seorang perempuan mengaku jadi korban pelecehan seksual ketika berobat pada UGB. Perempuan itu memang tak punya bukti konkret dan pelecehan yang dituduhkan pun berlangsung di waktu lampau.

Dari segi hukum, masalah yang terakhir ini sulit dibuktikan secara faktual. Namun, ada hukuman lain siap menanti UGB. Hukuman itu bukan dari hakim di pengadilan. Tapi dari masyarakat. Berbuat cabul adalah tuduhan teramat serius pada seorang ustadz.

Entah bagaimanapun UGB membantahnya nama baiknya sulit pulih. Tidak ada tempat bagi ustadz cabul di tengah masyarakat kita yang religius. Bagi saya sekarang, UGB harus mulai memikirkan kariernya selain membuka praktek pengobatan.*** (ade/ade)

Oleh Ade Irwansyah | Bintang Online

Comment Here