Tradisi Pelet Kandung Masih Lekat di Madura

Warga Madura membaca Alquran dalam ritual pelet kandung (Foto: Syaiful Islam/Okezone) | Dibaca 18

BANGKALAN – Angpao888.com : Masyarakat Madura mempunyai banyak tradisi yang sampai detik ini masih terjaga kelestariannya. Salah satu tradisi yang tetap eksis, yakni ritual pelet kandung atau tingkepan yang dilakukan pada kehamilan pertama.

Ritual pelet kandung dilaksanakan ketika usia kehamilan memasuki 7 bulan, tepatnya pada tanggal 14. Hal tersebut dilakukan supaya bayi yang dikandung saat lahir nanti, mempunyai sifat yang sempurna seperti bulan purnama.

Upacara pelet kandung diyakini masyarakat memiliki makna supaya kelahiran bayi tidak banyak mengalami hambatan. Lalu menjadi anak yang sholeh. Dengan berbagai prosesi dan ritual, mulai dari pembacaan ayat suci Alquran, mandi kembang, pembelahan kelapa yang menandakan jenis kelamin bayi, pemecahan telur, dan lain sebagainya.

Prosesi ritual pelet kandung yaitu, pertama ibu hamil dipijat dukun bayi. Bersamaan dengan itu, ada yang melantunkan ayat suci Alquran surat Yasin agar bayi mendapat keselamatan. Serta surat Maryam supaya memiliki kesucian seperti Siti Maryam.

Disusul surat Yusuf agar bayi yang lahir setampan nabi Yusuf. Selanjutnya yang hamil keluar rumah dan duduk di kursi. setelah itu ibu hamil memegang ayam muda dan meletakkan telur di atas pahanya. Ritual ini disempurnakan dengan mandi kembang.
Gayungnya menggunakan bethok, yang pegangannya terbuat dari pohon beringin agar rambut sang bayi lebat atau bisa juga menggunakan pohon kemuning. Apa yang dipegang ibu hamil harus diusahakan mengeluarkan bunyi dengan cara dipukul-pukul supaya bayi yang lahir nantinya tidak bisu.

Setelah prosesi mandi kembang selesai, ibu hamil beranjak dari tempat duduk dan telur yang ada di atas pahanya dibiarkan jatuh dan hancur. Dengan harapan nantinya proses lahir si bayi mudah dan lancar, seperti mudah dan lancarnya telur yang jatuh.

Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam prosesi ritual di antaranya kelapa muda, kelapa, kembang 7 rupa, bubur, nasi rasol (tumpeng), ayam muda, dan telur. Ritual pelet kandung merupakan suatu fenomena di masyarakat yang bertujuan untuk mendapat keselamatan dan keberkahan dari Allah SWT. Prosesi ini mengundang tetangga dan sanak keluarga untuk memanjatkan doa.

Kemudian di akhir acara pohon kemuning yang sudah ditebang dan dipasang kue serta uang diberikan kepada undangan. Lalu mereka akan merebut sesuatu yang digantungkan pada pohon kemuning itu. Konon, supaya kelak anaknya direbut-rebut orang. Batang pohon kemuning sendiri biasanya direbut anak kecil.

Ini dipakai untuk mengaji. Informasinya, kalau mengaji memakai kayu kemuning lekas oneng (mengerti). Salah seorang yang menggelar ritual pelet kandung Mashudi, warga Kelurahan Tunjung, Kecamatan Burneh, Bangkalan. Sebab, usia kandungan istrinya sudah memasuki 7 bulan.

“Sesuai tradisi yang ada, bila usia kandungan berusia 7 bulan dan pada kehamilan yang pertama, masyarakat Madura menggelar pelet kandung. Nah, sekarang kami menggelar itu,” paparnya, Senin (9/6/2014).

Menurut Mashudi, dengan melakukan ritual pelet kandung agar diberi keselamatan dan kemudahan saat istrinya melahirkan. Sekaligus untuk melestarikan tradisi dan budaya yang telah diwariskan nenek moyang.

Hal yang sama juga diuangkapkan, Ustad Saiful Rijal. Ia menyatakan, dengan mengadakan ritual pelet kandung sebagai ungkapan rasa syukur telah dikarunia bayi dalam kandungan. Lalu memanjatkan doa supaya selamat sampai melahirkan.

“Masyarakat di sini biasa melakukan pelet kandung ketika usia kehamilan ibu-ibu menginjak 7 bulan. Kami berharap tradisi ini tetap eksis sampai kapanpun,” pungkasnya. (ful)

Oleh Syaiful Islam | Okezone.com 

Comment Here