Wiranto: Penculikan Aktivis 98 Inisiatif Prabowo

Wiranto (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah) | Dibaca 117

JAKARTA – Angpao888.com : Letjen Prabowo Subianto pernah mengakui aksi penculikan sejumlah aktivis medio Desember 1997 sampai Februari 1998 bukan merupakan perintah dari atasannya almarhum Jenderal Faisal Tanjung yang kala itu menjabat sebagai Panglima ABRI atau Jenderal Wiranto yang menggantikan posisi Faisal Tanjung.

Hal tersebut disampaikan Wiranto di Posko Forum Komunikasi Pembela Kebenaran (FORUM KPK) yang terletak di Jalan HOS Cokroaminoto 55-57, Jakarta Pusat, Kamis (19/6/2014).

Diungkapkan Wiranto yang pernah menanyakan langsung kepada Prabowo, keputusan untuk menculik sejumlah mahasiswa itu merupakan inisiatif calon presiden nomor urut 1 itu.

“Seingat saya pada saat menanyakan langsung kepada Letjen Prabowo saat itu tentang siapa yang memberi perintah (penculikan aktivis), yang bersangkutan mengaku bahwa apa yang dilakukan bukan perintah Panglima. Namun merupakan inisiatifnya sendiri dari hasil analisa keadaan saat itu,” ujar Wiranto.

Wiranto yang menjabat sebagai Panglima ABRI saat terjadi kerusuhan tersebut juga menjelaskan, institusinya tidak pernah menggunakan pendekatan kekerasan dalam menghadapi demonstrasi.

“Perlu diketahui bahwa kebijakan Panglima saat itu untuk menghadapi para aktivis dan demonstran mengedepankan cara-cara persuasif, dialogis, dan komunikatif, serta menghindari tindakan yang bersifat kekerasan,” katanya.

“Maka aksi penculikan tersebut jelas tidak sesuai dengan kebijakan pimpinan,” pungkas Wiranto.

Sebelumnya, cawapres Jusuf Kalla dalam Debat Kandidat Pilpres 2014 perdana bertanya ke Prabowo soal penyelesaian hak asasi manusia (HAM) di masa lalu dan masa mendatang. Prabowo pun meminta JK menanyakan hal itu kepada atasannya saat itu.

“Kita bertanggungjawab. Penilaian ada pada atasan. Kalau bapak mau tahu ya silakan tanya atasan saya waktu itu,” jawab Prabowo.

 

Wiranto: Prabowo Butuh 2 Bintang untuk Salip Saya

Mantan Panglima ABRI Jenderal Purnawirawan Wiranto membantah telah terjadi persaingan antara dirinya dengan Letjen Prabowo Subianto saat masih sama-sama berdinas di kemiliteran. Apalagi jika persaingan itu dikaitkan dengan kerusuhan Mei 1998.

Ketua Umum Partai Hanura itu menyatakan, tak mungkin ada persaingan di antara prajurit yang berbeda angkatan, seperti Prabowo dan dirinya. Persaingan dalam militer biasanya terjadi antarprajurit seangkatan untuk memperebutkan suatu jabatan di atasnya.

“Berkali-kali saya katakan bahwa persaingan dalam kehidupan militer biasanya 2 atau lebih personel militer dalam satu level kepangkatan tertentu untuk memperebutkan jabatan satu tingkat di atasnya,” ujar Wiranto di Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta, Kamis (19/6/2014).

Sementara itu, lanjut dia, Prabowo saat kerusuhan Mei 98 masih menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Sementara Wiranto sudah menjadi orang nomor 1 di dunia kemiliteran tanah air. 2 Jabatan itu tak setingkat.

“Dari sisi kepangkatan, saya bintang 4, Prabowo bintang 2. Jabatan saya merupakan jabatan puncak dalam tubuh ABRI. Sedangkan dari pendekatan jabatan, Prabowo berada 2 level di bawah saya,” tutur Wiranto.

“Untuk menyalip saya, (Prabowo) butuh 2 bintang lagi. Beliau Pangkostrad, masih 2 step lagi menyusul saya,” imbuhnya.

Dengan demikian, Wiranto yang kini membawa partainya berada dalam 1 koalisi pendukung pasangan Jokowi-JK itu kembali menegaskan, tidak ada persaingan antara dirinya dengan Prabowo Subianto.

“Pada saat itu di tahun 90-an, ditinjau dari angkatan, saya angkatan 68, Prabowo 74, beda 5 angkatan. Lalu apa yang harus dipersaingkan? Di mana letak persaingan itu?” pungkas Wiranto. (Mut)

Oleh Sugeng Triono | Liputan6.com 

Comment Here